PERNAHKAH anda membaca sebuah cerita fiksi yang terus-menerus membangkitkan rasa ingin tahu tentang kelanjutan kisahnya? Jika pernah, inilah salah satu ciri dari sebuah karya yang “berhasil.” Karya itu, seolah mengajak kita untuk mengikuti alurnya, tanpa sedikitpun membuat kita merasa jenuh, tapi malah membuat kita merasa sayang untuk melewatkannya. Tentu, kalau sudah begitu, karya itu pun akan digemari oleh banyak pembaca.
Nah, rasa ingin tahu pembaca, yang juga dapat disebut dengan istilah suspense (sebab mengacu kepada “ketegangan” yang dialami pembaca), adalah satu hal yang mesti dipertimbangkan dengan serius oleh seorang penulis. Sebab, jika gagal membangkitkan ketegangan dan rasa ingin tahu itu, otomatis gagal pula mengajak atau membawa pembaca untuk ikut dalam kisah yang kita tulis sampai akhir. Dengan begitu, bukankah juga dapat dikatakan bahwa cerita kita itu “gagal” sebagai sebuah karya?
Menjaga dan membangkitkan suspense, bisa gampang-gampang susah. Bagi yang terbiasa dengan bacaan-bacaan apresiatif, misalnya novel-novel sastra yang “berat” dan “serius” atau terbiasa dengan tontonan film-film drama Barat yang membuat kita berpikir, maka membuat suspense bisa gampang. Tapi bagi yang lebih suka membaca buku-buku ringan dan menghibur saja, dengan jalan cerita biasa-biasa saja, yang tak membuat kita berpikir keras, atau suka menonton sinetron dan acara-acara hiburan melulu, maka tentu membuat suspense menjadi susah.
Salah satu cara yang biasa dipakai para penulis untuk membangkitkan suspense pembaca adalah dengan menampilkan tanda-tanda, semacam konflik-konflik kecil, yang akan membawa pembaca secara intensif menuju ke konflik dari peristiwa yang lebih besar. Artinya, jangan terlalu terburu-buru untuk memberitahu berbagai informasi kepada pembaca. Sebaiknya tunda dulu. Beri semacam rasa penasaran, atau ketidakpastian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita kita itu. Dengan begitu, akan timbul semacam misteri. Sebuah misteri, pasti membangkitkan suspense.
Saya kira, membangkitkan suspense tak semata-mata hanya terkait dengan menunda-nunda keingin-tahuan pembaca terhadap kelanjutan cerita, tapi juga bisa digarap dari sisi yang lain. Misalnya juga terkait bagaimana pembaca merasa terlibat dengan nasib yang akan menimpa tokoh-tokoh yang diceritakan dalam karya tersebut. Sebab biasanya, tokoh dalam ceritalah yang menggerakkan alur, yang menghidupkan peristiwa-peristiwa. Tokoh, juga menjadi fokus dalam membangkitkan minat pembaca terhadap cerita.
Coba sesekali anda baca karya-karya Pramoedya Ananta Toer misalnya. Atau baca juga Ronggeng Dukuh Faruk karya Ahmad Tohari. Kalau yang agak lebih muda, coba anda cari novel Rahasia Meede karya E.S Ito. Temukan suspense di sana. Akan sulit bagi pembaca untuk sekejap saja melepaskan ingatan tentang nasib si Srintil, tokoh dalam cerita Ronggeng Dukuh Faruk, dari awal sampai akhir. Begitu pula, meski novel berlatar sejarah dalam karya-karya Pramoedya, juga yang lebih muda karya E.S Ito, tidak kemudian membuat jenuh, karena misteri yang terjaga, senantiasa membangitkan rasa ingin tahu yang mendalam dan menegangkan.
Maka suspense pun, dengan begitu, pastilah terkait dengan plot dan konflik, sebagaimana yang sudah saya bahas dalam “bengkel sastra” dua edisi sebelumnya. Plot cerita yang kita susun harus membuat rasa ingin tahu pembaca bangkit. Konflik-konflik yang kita ciptakan, harus membuat rasa ingin tahu pembaca secara bertahap dan terjaga kian menanjak naik, menuju klimaks.
Mungkin, dalam menulis cerpen, tidak begitu sulit mempertahankan suspense pembaca, sebab ia hanya beberapa halaman saja. Tapi untuk menulis novel, yang memang memerlukan ketelitian dan kesabaran ekstra karena kisah yang panjang, maka menjaga suspense jadi persoalan cukup serius yang tak terhindarkan. Saran saya, buatlah kerangka karangan terlebih dahulu. Atau draft cerita, yang disusun dari plot demi plot. Tempatkan dengan baik tokoh-tokohnya dan konflik-konfliknya. Pilih dengan cermat di mana berakhirnya klimaks dalam persitiwa itu.
Anda, di edisi ini hadir puisi “Denting Kegelapan” karya Sri Maya Cahyati. Jika dibaca sekilas, puisi ini terasa padat permainan diksinya. Ada cukup banyak baris-baris diksi yang membuat kita agak mengerutkan kening membacanya. Saya kira, Sri memang telah mencoba untuk berupaya menghadirkan imaji-imaji berlapis dalam puisinya, namun sayangnya, lapisan-lapisan itu terasa belum padu, belum saling mendukung. Sehingga bangunan puisi jadi lemah. Meski begitu, jangan putus asa, Sri. Terus menulis, tawarkan keluasan makna dalam puisi Anda.
Berikut, ada puisi Dwi Shanidra, berjudul “Laila.” Puisi naratif ini, cukup terang, dan dapat dicerna dengan jelas. Puisi naratif seperti ini, kadang memang membuat kita ragu, apakah bisa disebut sebagai puisi. Tapi sebaiknya kita tetap melihat bahwa apa yang diciptakan oleh sobat kita Dwi ini adalah sebuah puisi. Sebab, setidaknya, Dwi telah “berniat” membuat puisi. Terutama, di akhir puisi, Dwi dapat menutup dengan sikap yang heroik dalam perjuangannya menemukan si jantung hati, Laila.
Puisi ketiga, berjudul “Kaki Pelangi” karya Melody. Judul puisi ini menarik. Membangkitkan metafora dan imajinasi kita tentang sesuatu (mungkin tempat atau benda) bernama “kaki pelangi” itu. Ada satu perstiwa, semacam perjalanan aku-lirik dalam puisi ini. Perjalanan untuk mencari “makna hidup” dari sebuah pertemuan. Sebagai sebuah puisi cukup berhasil utuh, meski masih juga kita rasakan ada yang lemah di beberapa tempat. Semisal, ada yang tak selesai dari baris puisi “telah kutemui, bukan emas maupun harta,” dan seterusnya, seolah ada yang patah.
Lalu, puisi “Zikir Rindu” karya M Razid, tentu lebih terasa sebagai puisi yang religius. Puisi ini cukup kuat membangun diksi. Cukup berhasil membangun kepaduan (unity). Membacanya, baris per baris, ada tahap-tahap yang menanjak untuk dapat sampai ke akhir puisi, dengan sebuah pertanyaan yang menukik, sekaligus mendalam, “namun tiada tahu di huruf mana/ Engkau bersembunyi…”
Cerpen “Bunga yang Berembun” karya S. Ahmad Pandi, berkisah tentang problem keluarga, yang dialami oleh tokoh remaja bernama Bunga. Hubungan kedua orang tuanya retak. Sebuah konflik yang sebetulnya kerap kita temui di banyak cerita fiksi, atau juga non-fiksi. Mungkin, kelebihan Pandi, dia berupaya memainkan plot, dengan membuat kejutan di akhir cerita. Meski, kejutan itu, bagi pembaca yang jeli, tidak terlalu membangkitkan sesuatu yang baru. Tentu, kelak Pandi harus bisa pula lebih menajamkan konflik-konflik, memperdalam karakter tokoh.***