Sabtu, 18 Desember 2010

Memainkan Sudut Pandang dalam Cerita

Teman-teman, salah satu trik yang dapat membuat karya kita menjadi lebih memikat dan menarik untuk dibaca adalah dengan memainkan sudut pandang (point of view). Apa itu sudut pandang? Bagaimana pula cara memainkannya?

Setiap orang sebenarnya memiliki sudut pandang yang berbeda-beda ketika menceritakan sebuah peristiwa.Misalnya, peristiwa gempa di Sumatera Barat beberapa waktu lalu, diwartakan oleh media massa dengan berbagai sudut pandang. Ada yang berkisah tentang nasib korban, ada yang mengurai tentang peran pemerintah setempat dalam menanggulangi bencana, ada pula yang bercerita tentang kedahsyatan gempa itu lewat gambaran bangunan yang ambruk, dan banyak lagi. Jadi, satu perstiwa bisa diolah dari berbagai sudut pandang.

Di dunia sastra, kecerdikan memainkan sudut pandang ini menjadi penting. Karena, kalau tidak pandai-pandai, maka tema cerita yang kita angkat dalam karya kita akan terkesan seragam dan basi. Sebab, kata orang “tak ada yang baru di bawah matahari ini.” Tema “cinta” misalnya, pasti akan segera menjenuhkan jika sudut pandangnya hanya seputar tentang jatuh cinta dan patah hati. Padahal ada banyak sudut pandang konflik di sana yang bisa berpotensi membuat karya kita menjadi lebih hidup dan khas.

Benar, sejak dunia ini ada sampai kini, tema “cinta” seolah tak ada habisnya. Banyak karya sastra lahir menghadirkan “cinta” baik sebagai tema utama, maupun sebagai bumbu saja. Nah, kenapa kemudian karya-karya serupa itu, juga nampaknya masih juga diminati banyak pembaca? Karena, yang pasti, selama masih ada manusia (yang punya perasaan) di dunia ini, selama itu pulalah cinta itu ada. Soalnya sekarang, kisah cinta yang seperti apakah yang mampu bertahan dalam gerusan zaman?

Maka, cara memainkan sudut pandang adalah salah satu upaya untuk menghadirkan kebaruan dalam karya kita, meski dengan tema yang sudah kerap digarap orang lain. Bagaimana caranya? Tentu, dengan melihat persoalan dalam tema tersebut dari kacamata yang berbeda. Bagaimana kita bisa tahu kalau itu berbeda? Tentu, jawabannya kembali pada kebutuhan awal seorang penulis, yakni membaca karya orang lain. Sebab, dengan membaca karya orang lain, maka kita akan segera tahu bahwa ternyata sudut pandang itu sudah pernah ditulis orang, sudut pandang yang ini sudah pernah digarap orang.

Semakin banyak kita membaca karya orang lain, semakin terbuka wawasan kita tentang kecenderungan sudut pandang yang dipilih oleh orang lain. Nah, dengan begitu, semakin terbuka pula kesempatan kita untuk mengambil sudut pandang cerita yang “belum” digarap oleh orang lain.

Putu Wijaya, pernah bilang, “…dengan memainkan sudut pandang, segala sesuatu bisa berkembang, berubah bahkan mungkin bertolak belakang.” Putu kemudian memberi contoh begini, “seorang yang pendek dapat diejek paling pendek di antara orang-orang yang tinggi. Tetapi sebaliknya ia juga bisa dipuji sebagai yang terpendek dari yang lain.” Artinya, teman-teman, jangan pernah hanya melihat persolan itu dari hitam-putih saja, tapi ayo, galilah berbagai kemungkinan, berbagai sudut padang, dan di sanalah nilai kreativitas itu.

Baiklah, edisi ini, cerpen “Bukan Pilihan” karya Adillah Suja hadir menemui kita. Cerpen dengan tema cinta, yang sebenarnya masih dengan sudut pandang penceritaan yang awam dipakai. Kesederhanaan narasinya, mungkin bisa memberi kenikmatan tersendiri bagi pembaca. Meskipun, banyak detil yang perlu diolah kembali, semisal, apa sebab si Zul tak selesai-selesai kuliahnya?

Untuk puisi, ada “Pahatan Hidup” karya Dian Martinah. Dengan diksi-diksi yang cukup “tersusun rapi” suasana perasaaan si aku-lirik dapat tergambar pada kita dengan terang. Perjalanan hidup, adalah tema utamanya, dan bisa lebih luas jika pandai mengembangkan lebih jauh.

Edisi ini, setidaknya ada 4 puisi yang pendek. Pertama, “Kembang Tua” karya Burhan Ali. Cukup impresif, dan liris. Ada perjuangan, ada sepi, ada haru, ada iba. Kedua, puisi Syarifuddin berjudul “Diam.” Sebenarnya cukup terang kita tangkap arah puisi ini, tapi menjadi agak rumpang karena baris-baris diksi puisinya masih lemah. Seperti ada uraian yang belum usai dari puisi ini.

Ketiga, Julisman dengan “Ingin Kau Pergi.” Puisi sederhana ini, sebetulnya dapat menyimpan kekuatan, meski ada kesan terburu-buru dalam penulisannya. Permainan rima, adalah sebuh upaya memperindah puisi, meski belum maksimal. Puisi pendek keempat, “Perjuangan Masa Depan” karya Adang Sumarna. Sebuah puisi sederhana, yang masih terus perlu digali kemungkinan pemilihan kata dan diksinya.

“Kisah Air” karya Melody, hemat saya adalah puisi yang menarik. Karya-karya Melody, yang juga pernah termuat sebelumnya juga berpotensi cukup menarik. Jika Melody terus menulis, dan tak cepat jenuh, mau terus belajar, tentu harapan menjadi penyair akan terbuka di masa de-pan.***

0 comments:

Posting Komentar

Assalamualaikum teman teman.. terimakasih telah berkunjung ke Sites saya, semoga teman teman tidak bosan dan mudah mudahan artikel saya bermanfaat.. wassalam

Social Network